Kalau Anda baru mulai import barang dari luar negeri, salah satu istilah yang cepat atau lambat akan Anda temui adalah HS Code barang import.
Sekilas HS Code hanya terlihat seperti deretan angka. Padahal, kode ini punya pengaruh besar terhadap proses import barang ke Indonesia. HS Code berkaitan dengan klasifikasi barang, tarif bea masuk, pajak, sampai ketentuan larangan dan pembatasan atau Lartas.
Karena itu, saya tidak menyarankan menentukan HS Code hanya berdasarkan nama barang yang ditulis supplier di invoice. Barang yang sekilas terlihat sama bisa memiliki klasifikasi berbeda karena fungsi, bahan, spesifikasi, atau cara kerjanya berbeda.
Sebelum barang dikirim ke Indonesia, sebaiknya pastikan dulu HS Code yang digunakan memang sesuai dengan karakter barang.
Apa Itu HS Code Barang Import?
HS Code atau Harmonized System Code merupakan sistem klasifikasi barang yang digunakan dalam perdagangan internasional.
Sederhananya, HS Code bisa kita anggap sebagai identitas suatu jenis barang dalam aktivitas ekspor dan import.
Harmonized System menggunakan kode sampai enam digit secara internasional. Di kawasan ASEAN terdapat pengembangan melalui ASEAN Harmonised Tariff Nomenclature atau AHTN hingga delapan digit. Indonesia menerapkannya melalui sistem klasifikasi dalam Buku Tarif Kepabeanan Indonesia atau BTKI. (Bea Cukai)
Jadi ketika Anda import barang seperti mesin, pakaian, besi, kosmetik, perangkat elektronik, atau sparepart, masing-masing barang mempunyai klasifikasi tersendiri.
Bahkan barang dengan material yang sama belum tentu menggunakan HS Code yang sama.
Contohnya produk berbahan baja. Mingyu Cargo menangani berbagai produk kelompok besi dan baja seperti kawat, coil, pipa, baut, sekrup, perlengkapan konstruksi sampai perlengkapan rumah tangga. Produk-produk tersebut tidak otomatis menggunakan satu HS Code hanya karena semuanya terbuat dari besi atau baja.
Apa Fungsi HS Code Barang Import?
HS Code bukan sekadar kode yang dicantumkan pada dokumen.
Ada beberapa alasan kenapa importir perlu memastikan HS Code sejak awal.
1. Menentukan Tarif Bea Masuk
Salah satu fungsi HS Code barang import adalah membantu menentukan tarif bea masuk suatu barang.
Masing-masing pos tarif dapat memiliki tarif yang berbeda. Karena itu, perubahan klasifikasi bisa memengaruhi biaya import yang nantinya harus Anda keluarkan.
HS Code juga berkaitan dengan berbagai kebijakan tarif lain seperti tarif preferensi dalam skema FTA, Bea Masuk Anti Dumping, Bea Masuk Tindakan Pengamanan, dan komponen perpajakan tertentu dalam rangka import.
Inilah alasan saya lebih menyarankan menghitung biaya import setelah klasifikasi barang cukup jelas.
Jangan hanya menghitung:
Harga barang + ongkir internasional.
Anda juga perlu memperhitungkan kewajiban kepabeanan dan biaya lain setelah barang masuk Indonesia.
2. Mengetahui Ketentuan Lartas
Tidak semua barang bebas masuk ke Indonesia tanpa persyaratan tambahan.
Beberapa jenis barang masuk kategori yang memiliki ketentuan Larangan dan Pembatasan atau Lartas.
Tergantung jenis produknya, Anda mungkin perlu memenuhi dokumen atau persyaratan dari instansi terkait.
Contohnya dapat berhubungan dengan:
- Persetujuan Impor;
- SNI;
- BPOM;
- Laporan Surveyor;
- ketentuan Kementerian Kesehatan;
- ketentuan Kementerian Perdagangan;
- atau perizinan teknis lainnya.
Bea Cukai juga menyarankan importir memahami status Lartas barang sebelum proses pengiriman atau pengapalan dilakukan. Informasi ketentuan barang dapat dicek melalui portal Indonesia National Single Window.
Ini penting.
Jangan sampai barang sudah berada di perjalanan menuju Indonesia, tetapi Anda baru mengetahui bahwa produk tersebut membutuhkan dokumen yang seharusnya disiapkan sebelumnya.
3. Membantu Menghitung Biaya Import
Setelah HS Code diketahui, Anda mempunyai dasar yang lebih jelas untuk melakukan estimasi biaya.
Setidaknya Anda bisa mulai melihat beberapa komponen seperti:
- tarif bea masuk;
- pajak dalam rangka import;
- kebutuhan perizinan;
- biaya customs clearance;
- biaya pelabuhan atau bandara;
- hingga biaya pengiriman domestik.
Dari sini Anda bisa menghitung landed cost produk dengan lebih realistis.
Bagi importir yang membeli barang untuk dijual kembali, bagian ini sangat penting.
Harga supplier memang terlihat murah, tetapi belum tentu barang tersebut tetap memiliki margin menarik setelah semua biaya import dihitung.
4. Digunakan dalam Proses Kepabeanan
HS Code juga digunakan dalam pemberitahuan pabean.
BTKI menjadi referensi klasifikasi barang Indonesia dan berhubungan dengan dokumen kepabeanan seperti PIB maupun PEB.
Karena itu, deskripsi barang dan klasifikasinya harus saling sesuai.
Kalau dokumen menyebut satu jenis barang tetapi klasifikasi yang digunakan tidak cocok dengan karakter produk sebenarnya, proses kepabeanan dapat membutuhkan penelitian lebih lanjut.
Bagaimana Cara Menentukan HS Code Barang Import?
Pertanyaan berikutnya tentu: bagaimana cara mencari HS Code?
Untuk barang yang sederhana mungkin relatif mudah. Tetapi untuk mesin, komponen, bahan kimia, barang multifungsi, atau produk dengan spesifikasi teknis tertentu, menentukan klasifikasi bisa jauh lebih rumit.
Saya biasanya menyarankan memulainya dari beberapa langkah berikut.
1. Kenali Barang Secara Detail
Jangan menentukan HS Code hanya berdasarkan nama barang.
Misalnya supplier menulis:
Industrial Machine
Informasi tersebut terlalu umum.
Sebelum menentukan klasifikasi, cari tahu informasi seperti:
- nama lengkap barang;
- fungsi utama;
- material atau bahan;
- cara kerja;
- spesifikasi teknis;
- kapasitas;
- ukuran;
- bentuk produk;
- komponen;
- serta penggunaan akhirnya.
Semakin lengkap informasi produk, semakin mudah mempersempit kemungkinan klasifikasinya.
Misalnya Anda hendak import pipa baja.
Tidak cukup hanya mengetahui bahwa barang tersebut adalah steel pipe. Anda mungkin perlu mengetahui material, diameter, bentuk penampang, metode produksi, dan spesifikasi lainnya.
2. Jangan Mengandalkan Nama Dagang
Nama produk dari supplier sering dibuat untuk kebutuhan marketing.
Contohnya:
Smart Home Cleaning Robot X10 Pro
Nama tersebut memang menjelaskan produknya secara umum, tetapi tidak otomatis memberi tahu klasifikasi kepabeanan yang tepat.
Untuk menentukan HS Code barang import, Anda perlu melihat apa fungsi utama perangkat tersebut, bagaimana cara kerjanya, serta karakter teknisnya.
Jadi saya biasanya menggunakan nama dagang sebagai titik awal saja.
Bukan sebagai satu-satunya dasar menentukan HS Code.
3. Siapkan Datasheet atau Katalog Produk
Kalau Anda import mesin, elektronik, sparepart, atau produk teknis, mintalah supplier mengirimkan dokumen pendukung.
Beberapa dokumen yang bisa membantu antara lain:
- katalog produk;
- datasheet;
- foto barang;
- material composition;
- manual;
- spesifikasi teknis;
- invoice;
- packing list.
Untuk barang tertentu, foto produk saja belum cukup.
Datasheet sering memberikan informasi yang jauh lebih berguna karena menjelaskan fungsi dan spesifikasi produk secara detail.
4. Cari Kelompok Barang yang Sesuai
Sistem HS mempunyai struktur bertingkat.
Anda tidak perlu langsung mencari delapan digit sekaligus. Mulailah dengan memahami kelompok barangnya, kemudian persempit klasifikasinya.
Secara sederhana Anda akan bertemu struktur seperti:
Chapter → Heading → Subheading → Pos Tarif
Pada sistem HS internasional, klasifikasi harmonis tersedia sampai enam digit. AHTN yang digunakan negara-negara ASEAN memperluasnya sampai delapan digit.
Cara seperti ini jauh lebih aman dibanding mengetik nama barang di Google lalu mengambil HS Code pertama yang muncul.
5. Baca Uraian dan Catatan Klasifikasi
Ini bagian yang sering dilewatkan.
Setelah menemukan kode yang kelihatannya cocok, jangan langsung berhenti.
Perhatikan juga:
- uraian barang;
- Catatan Bagian;
- Catatan Bab;
- Catatan Subpos;
- serta Ketentuan Umum untuk Menginterpretasi Harmonized System.
BTKI sendiri tidak hanya berisi daftar angka dan tarif. Sistem tersebut juga memuat ketentuan interpretasi dan catatan yang digunakan untuk membantu menentukan klasifikasi.
Dua kode bisa terlihat sama-sama masuk akal jika hanya membaca nama barangnya.
Setelah melihat catatan klasifikasi, biasanya perbedaannya mulai terlihat.
6. Cek Tarif dan Ketentuan Import
Setelah mendapatkan kandidat HS Code, langkah berikutnya jangan langsung melakukan shipment.
Periksa dulu apa konsekuensi dari kode tersebut.
Cari tahu apakah barang memiliki:
- tarif bea masuk tertentu;
- ketentuan Lartas;
- kewajiban Persetujuan Impor;
- SNI;
- Laporan Surveyor;
- BPOM;
- perizinan kesehatan;
- atau persyaratan lainnya.
Portal INSW dapat digunakan sebagai salah satu referensi untuk mengecek ketentuan yang berkaitan dengan barang import. Bea Cukai juga mengarahkan importir ke LNSW sebagai sumber pengecekan ketentuan Lartas.
Catatan Penting Soal Regulasi
Peraturan klasifikasi dan tarif tidak selalu diam selamanya.
Sebagai contoh, PMK 26/PMK.010/2022 yang menjadi dasar sistem klasifikasi dan tarif barang import telah mengalami beberapa perubahan. Perubahan ketiga ditetapkan melalui PMK Nomor 50 Tahun 2026 dan berlaku mulai 28 Juli 2026. (Kementerian Keuangan Republik Indonesia)
Karena itu, jangan hanya mengandalkan screenshot tarif atau artikel lama.
Selalu periksa aturan yang berlaku ketika Anda benar-benar akan melakukan import.
Contoh Sederhana Menentukan HS Code
Misalnya Anda ingin import:
Stainless Steel Kitchen Sink
Kalau hanya melihat kata stainless steel, mungkin Anda langsung mencari kelompok bahan stainless steel.
Padahal barang tersebut sudah berbentuk produk jadi dan mempunyai fungsi tertentu, yaitu sebagai bak cuci.
Artinya, klasifikasi tidak hanya melihat material pembuatnya.
Fungsi serta bentuk barang juga perlu diperhatikan.
Mingyu Cargo sendiri pernah menangani beberapa klasifikasi produk kitchen sink dalam kelompok barang besi dan baja.
Contoh sederhana ini menunjukkan kenapa menentukan HS Code tidak cukup hanya dengan bertanya:
“Barang ini terbuat dari apa?”
Anda juga perlu bertanya:
“Barang ini sebenarnya apa dan digunakan untuk apa?”
Apa Risiko Jika HS Code Barang Import Salah?
Kesalahan HS Code bisa menimbulkan masalah berbeda-beda.
Tidak selalu berarti barang otomatis tertahan, tetapi risikonya tetap perlu diperhitungkan.
1. Perhitungan Bea Masuk Bisa Salah
HS Code berbeda bisa mempunyai tarif yang berbeda.
Kalau Anda menggunakan klasifikasi yang tidak sesuai, perhitungan biaya import yang sudah dibuat sebelumnya juga bisa berubah.
Masalah ini menjadi semakin terasa kalau Anda mengimport dalam jumlah besar.
Selisih beberapa persen saja bisa menghasilkan perbedaan biaya yang cukup besar.
2. Perizinan Barang Bisa Tidak Sesuai
Menurut saya, ini salah satu risiko yang paling perlu diperhatikan.
Bayangkan Anda menganggap barang bebas import.
Barang kemudian dikirim.
Setelah dicek lebih lanjut, ternyata klasifikasi yang sesuai masuk ke kelompok produk yang memiliki persyaratan tertentu.
Sekarang masalahnya bukan hanya bea masuk.
Anda harus mencari tahu apakah dokumen tersebut dapat diurus setelah barang tiba atau justru harus diselesaikan sebelum pengiriman.
Barang Lartas yang tidak memenuhi persyaratan dapat menghadapi konsekuensi kepabeanan, termasuk kemungkinan diekspor kembali atau tindakan lain sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Proses Customs Clearance Bisa Lebih Rumit
Perbedaan antara uraian barang, spesifikasi, dokumen, dan HS Code dapat menimbulkan kebutuhan pemeriksaan atau klarifikasi tambahan.
Semakin lama barang berada di area pelabuhan atau bandara, semakin besar juga risiko munculnya biaya tambahan.
Untuk pengiriman kontainer, misalnya, keterlambatan dapat berkaitan dengan biaya storage atau demurrage.
Mingyu Cargo juga menangani kasus barang yang tertahan karena masalah dokumen, perizinan, nilai pabean, maupun proses pemeriksaan jalur merah.
Itulah kenapa saya lebih suka menyelesaikan potensi masalah sebelum kapal atau pesawat berangkat.
Jangan Mencari HS Code Berdasarkan Tarif Termurah
Ada kesalahan lain yang sebaiknya dihindari.
Misalnya Anda menemukan dua kode yang terlihat hampir sama:
- kode A tarifnya lebih tinggi;
- kode B tarifnya lebih rendah.
Lalu kode B langsung dipilih karena lebih murah.
Cara seperti ini berisiko.
HS Code seharusnya mengikuti karakter barang, bukan tarif yang ingin kita dapatkan.
Kalau memang terdapat beberapa klasifikasi yang terlihat memungkinkan, periksa kembali fungsi, bahan, spesifikasi teknis, dan aturan klasifikasinya.
Jangan memaksakan barang masuk ke kode tertentu hanya karena tarifnya lebih menarik.
Kapan Sebaiknya Mengecek HS Code?
Menurut saya, HS Code seharusnya dicek sebelum Anda melakukan pengiriman.
Idealnya alur import berjalan seperti ini:
Tentukan produk → kumpulkan spesifikasi → tentukan HS Code → cek Lartas → cek perizinan → hitung biaya import → atur pengiriman.
Bukan:
Barang dikirim → barang tiba → cari HS Code → baru cek izin.
Bea Cukai sendiri menyarankan importir memahami barang dan ketentuan Lartas sebelum pengiriman atau pengapalan.
Dengan pendekatan pertama, Anda punya kesempatan untuk menyelesaikan masalah sebelum barang meninggalkan negara asal.
Apakah HS Code Bisa Dicek Sendiri?
Bisa.
Untuk kebutuhan awal, Anda bisa melakukan pengecekan melalui BTKI dan portal INSW.
Kalau produknya sederhana dan spesifikasinya jelas, kemungkinan menentukan klasifikasi awal juga lebih mudah.
Namun, pertimbangannya menjadi berbeda ketika Anda menghadapi barang seperti:
- mesin industri;
- sparepart;
- besi dan baja;
- alat kesehatan;
- kosmetik;
- makanan;
- bahan kimia;
- tekstil;
- produk dengan beberapa fungsi;
- atau barang yang memiliki ketentuan Lartas.
Dalam kondisi seperti ini, tujuan Anda seharusnya bukan sekadar menemukan angka HS Code.
Yang lebih penting adalah memahami konsekuensi dari kode tersebut terhadap keseluruhan proses import.
Perlu Bantuan Menentukan HS Code dan Mengurus Import?
Kalau setelah membaca artikel ini Anda masih ragu menentukan HS Code barang import, jangan terburu-buru melakukan shipment.
Siapkan terlebih dahulu informasi seperti:
- nama barang;
- foto;
- katalog atau datasheet;
- spesifikasi;
- jumlah;
- berat;
- nilai barang;
- serta negara asal.
Dari informasi tersebut, proses pengecekan kebutuhan import akan jauh lebih mudah.
Mingyu Cargo – PT Mingyu Murni Indonesia melayani pengurusan import berbagai kategori barang mulai dari besi dan baja, mesin, sparepart, elektronik, tekstil, alat kesehatan, kosmetik, makanan hingga berbagai barang umum lain yang diizinkan masuk ke Indonesia. Layanan mencakup konsultasi, perizinan, kepabeanan hingga barang tiba di lokasi tujuan.
Dengan melakukan pengecekan HS Code dan persyaratan sejak awal, Anda bisa memperkirakan biaya dengan lebih baik sekaligus mengurangi risiko kendala ketika barang sudah berada di pelabuhan atau bandara.
Kesimpulannya, jangan anggap HS Code hanya sebagai deretan angka di dokumen. Bagi importir, menentukan HS Code yang tepat merupakan salah satu langkah penting sebelum barang diberangkatkan ke Indonesia.

